| (Image Source: bloomberg) |
Samsung, SK Hynix, dan Micron menghadapi gugatan di Amerika Serikat atas dugaan praktik pengaturan harga memori DDR3 dan DDR4. Ketiga perusahaan tersebut dituduh membatasi pasokan sehingga harga memori meningkat hingga lebih dari 700% dalam kurun waktu empat tahun.
Gugatan yang diajukan ke Pengadilan Distrik California Utara itu menyebut bahwa Samsung, SK Hynix, dan Micron sengaja mengalihkan fokus produksi mereka ke memori High-Bandwidth Memory (HBM). Langkah ini disebut membuat kapasitas produksi DDR3 dan DDR4 berkurang, sementara permintaan tetap tinggi.
Para penggugat menilai strategi tersebut memungkinkan ketiga perusahaan mempertahankan harga memori tetap mahal tanpa tekanan dari kompetitor. Apalagi, Samsung, SK Hynix, dan Micron menguasai sekitar 90% pasar DRAM global, sehingga persaingan dinilai sangat terbatas.
Sebanyak 17 penggugat, yang terdiri dari 14 individu dan tiga bisnis PC skala kecil, meminta status gugatan class action, penghentian dugaan praktik pengaturan harga, serta kompensasi atas kerugian yang dialami.
Menariknya, kasus serupa pernah muncul pada 2018. Saat itu, gugatan terhadap ketiga perusahaan ditolak pengadilan karena dianggap tidak memiliki bukti kuat yang menunjukkan adanya kesepakatan langsung antara para pihak untuk melakukan kolusi.
Hingga saat ini, belum ada keputusan terkait gugatan terbaru tersebut. Meski peralihan produksi ke HBM dianggap masuk akal karena tingginya permintaan dari industri AI dan pusat data, membuktikan bahwa langkah itu dilakukan untuk menjaga harga memori tetap tinggi diperkirakan tidak akan mudah.